Keduk Beji Tawun Kembali Digelar, Merawat Mata Air dan Melestarikan Warisan Budaya

TAWUN, KASREMAN – Suasana Taman Wisata Tawun, Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, kembali semarak dengan pelaksanaan Tradisi Keduk Beji 2026, Selasa (15/9/2026). Tradisi yang digelar secara turun-temurun ini tidak hanya menjadi agenda budaya masyarakat Desa Tawun, tetapi juga menjadi momentum untuk menjaga keberadaan sumber mata air Beji yang memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat sekitar.

Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut diikuti masyarakat Desa Tawun dan mendapat perhatian dari berbagai unsur. Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati Ngawi Dr. Dwi Riyanto Jatmiko, M.H., M.Si., Kepala Kejaksaan Negeri Ngawi B. Hermanto, S.H., M.H., Camat Kasreman, Kapolsubsektor Kasreman, Danposramil Kasreman, Puskesmas Kasreman, UPT Taman Wisata Tawun serta unsur masyarakat lainnya.

Merawat Sumber Air, Merawat Kehidupan

Keduk Beji secara sederhana dapat dimaknai sebagai kegiatan membersihkan sumber air. Dalam tradisi masyarakat Tawun, ā€œkedukā€ berarti membersihkan atau mengeruk, sedangkan ā€œBejiā€ merupakan nama sumber mata air yang berada di kawasan Taman Wisata Tawun.

Dalam pelaksanaannya, salah satu prosesi utama adalah membersihkan sumber air Beji. Selain itu terdapat prosesi penggantian kendi yang berada di pusat sumber air. Tradisi tersebut menjadi simbol penghormatan sekaligus upaya masyarakat untuk menjaga kebersihan dan keberlangsungan sumber mata air yang selama ini memberikan manfaat bagi kehidupan warga.

Sumber air Beji memiliki fungsi penting bagi masyarakat, antara lain berkaitan dengan pengairan lahan pertanian serta keberadaan kawasan wisata Tawun. Karena itu, tradisi Keduk Beji tidak hanya mempunyai nilai budaya, tetapi juga berkaitan erat dengan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dan kelestarian sumber daya air.

Prosesi Sarat Nilai Tradisi

Keduk Beji memiliki sejumlah prosesi yang masih dipertahankan hingga sekarang. Dalam pelaksanaan tahun 2026, rangkaian utama diawali dengan pengedukan atau pembersihan sumber Beji. Warga laki-laki dari berbagai kelompok usia turun ke sumber untuk membersihkan sampah dan daun yang terkumpul selama satu tahun.

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan penggantian kendi di pusat sumber. Berdasarkan tradisi yang berkembang di masyarakat, prosesi tersebut dilakukan oleh penyelam yang merupakan keturunan Eyang Ludro Joyo, tokoh yang menjadi bagian dari sejarah dan cerita turun-temurun masyarakat Tawun.

Rangkaian tradisi juga dilengkapi dengan berbagai prosesi adat, sebelum akhirnya ditutup dengan selamatan dan makan bersama. Keseluruhan rangkaian tersebut memperlihatkan kuatnya unsur gotong royong, kebersamaan, penghormatan terhadap alam serta pelestarian budaya lokal.

Wakil Bupati: Menjaga Keseimbangan Lingkungan

Kehadiran Wakil Bupati Ngawi Dr. Dwi Riyanto Jatmiko, M.H., M.Si. dan Kepala Kejaksaan Negeri Ngawi B. Hermanto, S.H., M.H. menjadi bentuk perhatian Pemerintah Kabupaten Ngawi terhadap keberadaan tradisi lokal yang terus dipertahankan masyarakat Tawun.

Dalam keterangannya kepada wartawan, Dwi Riyanto Jatmiko menyampaikan bahwa Keduk Beji merupakan tradisi turun-temurun yang memiliki kaitan erat dengan keberadaan sumber air dan kehidupan masyarakat.

ā€œKeduk Beji ini merupakan tradisi warga Tawun yang telah dilakukan secara turun-temurun. Kegiatan ini untuk menjaga keseimbangan lingkungan hidup serta wujud syukur atas berkah sumber air Beji yang memberikan kehidupan bagi masyarakat setempat,ā€ ujar Wakil Bupati Ngawi.

Ā Ia juga menyampaikan bahwa Keduk Beji telah menjadi salah satu budaya khas Kabupaten Ngawi yang perlu terus dilestarikan.

ā€œKeduk Beji telah menjadi salah satu budaya yang khas di Ngawi. Dari dulu wisata Tawun ini memiliki tradisi sejarah ini yang perlu kita lestarikan,ā€ lanjutnya.

Potensi Wisata Budaya Kecamatan Kasreman

Keberadaan Keduk Beji juga tidak dapat dipisahkan dari Taman Wisata Tawun sebagai salah satu kawasan wisata di Kecamatan Kasreman. Pelaksanaan tradisi tahunan tersebut turut menarik perhatian ribuan pengunjung yang berasal berasal dari sejumlah daerah di sekitar Ngawi, termasuk Madiun, Magetan, Bojonegoro, Solo dan wilayah lainnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tradisi budaya memiliki potensi untuk berjalan beriringan dengan pengembangan pariwisata dan ekonomi masyarakat. Keduk Beji bukan hanya menjadi ruang pelestarian adat, tetapi juga menjadi daya tarik budaya yang memperkenalkan Desa Tawun dan Kecamatan Kasreman kepada masyarakat yang lebih luas.

Ā Dengan tetap dilaksanakannya Keduk Beji, masyarakat Desa Tawun menunjukkan bahwa perkembangan zaman tidak harus menghilangkan akar budaya. Tradisi leluhur tetap dapat dirawat sekaligus dimaknai dalam konteks kehidupan masa kini, terutama dalam menjaga lingkungan dan sumber daya air.

Keduk Beji akhirnya bukan sekadar tradisi tahunan. Ia menjadi pertemuan antara budaya, lingkungan, gotong royong dan potensi wisata—sebuah warisan Desa Tawun yang terus hidup di tengah masyarakat Kecamatan Kasreman.